Minggu, 25 Maret 2012

Paedagogi Praktis Abad ke - 21

      Dalam laporan yang dikeluarkan oleh Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) dengan judul Memahami Otak : Menuju Ilmu Baru Belajar diungkapkan mengenai perlunya perumusan kebijakan dan praktik pendidikan diungkapkan mengenai perlunya perumusan kebjakan dan praktik pendidikan yang didukung oleh pengetahuan. Dalam hal ini juga terungkap secara eksplisit sejauh mana paedagogi sebagai ilmu pengetahuan akan mendukung kebijakan dan praktik pendidikan. 
         Atas dasar laporan ini ada 3 aspek saling terkait untuk memahami dan akhirnya menyelesaikan masalah ini, antar lain :
1. Codifyng and communicating teachers’ practical pedagogical knowledge => kodifikasi dan  mengkomunikasikan pengetahuan pedagogis praktis guru.
2. Establishing systems for shared scientific pedagogical knowledge management => membangun system pedagogis untuk berbagi pengetahuan managemen ilmiah dan menyediakan waktu yang cukup bagi guru untuk mengembangkan dan menerapkan pengetahuan ini.
3. Developing a robust theoretical framework for the new science of pedagogy => mengembangkan kerangka teori yang kuat terhadap ilmu baru pedagogi.

          Meskipun penelitian empiris dan studi kasus tentang mengajar dan belajar terus berkembang, wawasan teoritis penting untuk memahami kekayaan penelitian empiris dan data tidak selalu tersedia. Kecendrungan studi difokuskan secara sempit di bidang pendidikan telah meningkatkan status proyek-proyek penelitian individu masih menghambat pengembangan bangunan teori universal sehingga menimbulkan masalah mendasar bagi pengembangan teori baru pedagogi. 

        Pengembangan teoritis dan empiris bidang pedagogi memberikan kendali bebas, namun wacana dan kebijakan seringkali memaksakan. Di Indonesia, pencantuman kompetensi pedagogic, kepribadian, professional, dan social yang harus dimiliki oleh pendidik berikut indicator esensialnya telah memunculkan kesulitan pengembangan lebih lanjut sehingga seakan-akan semua orang yang berstatus “pendidik” harus memiliki kompetensi yang sama. Pada tahapan yang lebih luas, hal ini dapat memangkas geliat ilmiah dan membonsai esensi pedagogi dan penelitian di lapanagan yang relevan.

Daftar Pustaka:
Danim, Sudarwan. (2010). Pedagogi, Andragogi dan Heutagogi. Bandung: Alfabeta

Senin, 19 Maret 2012

Testimoni Kuliah Online Paedagogi tanggal 19 Maret 2012

           Sebelum berangkat ke kampus, rencananya ingin post duluan tapi karena takut telat masuk kuliah psikologi klinis. Jadi pada sore hari setelah kuliah, baru bisa ngeposting sekedar untuk melatih daya ingat…haha..^^

           Pada pagi yangh cerah ini, sebenarnya saya sedikit ngantuk karena semalam beraktivitas seharian full. Untunglah kuliah diadakan secara online, jadi tidak terburu-buru dalam mepersiapkan diri unutk kuliah karena untuk sampai ke kampus dari rumah butuh sekitar 45 – 50 menit. Terima kasih Bu dina..^^

            Pertama ketika masuk ke grup MK Paedagogi 2011/2012, kami disuruh mengabsen. Lalu kami disuruh melihat web berikut http://www.e-dukasi.net/index.php dan bereksplorasi di dalam web tersebut. Tampilan web ini cukup menarik dengan warna yang disukai banyak orang pada umunya, sehingga saya sedikit mencari-cari apa yang bisa dicari. Eh, ternyata situs web ini berisi materi belajar dari kelas 1 SD, SMP, SMA hingga SMK. Dan tidak hanya sampai di situ, ada bank soal dan uji kompetensi diri yang dapat membantu siswa mengukur kemampuan masing-masing. 

            Lalu Bu dina, memberikan instruksi untuk mengaitkan paedagogi dengan apa yang kita pikirkan dengan situs web ini, setelah berpikir sejenak lalu saya menuangkan pendapatku yang berisi : 

“Situs ini, sangat terstruktur dalam penyajian materinya dari mulai materi pokoknya yang menyajikan bahan untuk kelas 1 hingga SMA kejuruan. Tidak hanya sampai di sana, ketika masuk sudah instruksi yang mudah dipahami (menurut saya, bahasanya mudah dimengerti buat anak – anak). Pengetahuan yang didapatkan tidak hanya melalui textbook tetapi banyak pengetahuan populer yang menjadi sorotan bidang ilmu pendidikan. Ditambah dengan adanya modul online dan bank soal yang membantu proses pembelajaran anak, ketika sudah mempelajari materi dapat latihan membuat soal – soal yang ada. Dengan adanya proses yang sedemikian rupa, maka anak-anak dapat belajar juga melalui akses internet rumah belajar online, selain materi yang sudah didapat di sekolah. Jadi, dengan semakin berkembangnya teknologi, pengetahuan yang dapat diperoleh tidak harus diperoleh dari textbook saja. Tetapi dengan banyaknya situs-situs seperti ini sangat menunjang murid-murid yang berkeingintahuan tinggi untuk bereksplorasi di dunia pendidikan. Dan web ini adalah salah satunya. Great one!...^^

Menurut saya, situs web ini berisi informasi yang sangat penting dan praktis serta bersifat edukatif. Dengan tersedianya web ini, siswa mampu bereksplorasi dengan bebas mengenai ilmu pengetahuan yang menjadi (curiosity – nya). Web ini berisikan materi serta bank soal yang membantu dalam memahamkan siswa. Secara tidak langsung web ini dibaut untuk memperkenalkan ‘e-learning’ kepada siswa agar mereka bisa berproses sebagai individu yang mandiri dan bertanggung jawab. Melihat kaitannya dengan prose paedagogis, maka peran guru tidak boleh terlupakan. Meskipun telah ada fasilitas yang mempermudah siswa dalam memahami pelajaran, guru di sisni menjadi pembimbing dan pendidik. Bagaimana guru bisa membantu dalam memahamkan siswanya dengan menggunakan fasilitas yang sudah begitu canggihnya? Jawabannya ada pada guru itu sendiri (seni yang dimilikinya dalam mendidik peserta didiknya). Jadi dengan demikian, seni yang dimiliki oleh guru, baik itu strategi pengajaran, teknik menstimulasi lingkungan sekitar yang adaagar siswa tergerak untuk mencoba mengutarakan pendapatnya, serta cara guru memahamkan siswanya akan menentukan apakah peserta didiknya bisa mandiri dan bertanggung jawab. Dengan memperhatikan hal-hal penting ini, maka situs web ini bisa menjadi salah satu fasilitas pembelajaran yang efektif dan efisien bagi peserta didiknya, cara guru menyajikan materi dan membantu dalam memahamkan materi dengan menarik, bimbingan dan didikan guru akan sangat membantu dalam mengoptimalkan prose belajar siswa ini. Dan web ini sudah dibuat sedemikian rupa dengan pertimbangan bahwa web ini tidak hanya digunakan oleh peserta didik, tetapi juga pendidik. Awal dan akhir akan sempurna bila dalam prosesnya guru dan siswa saling berinteraksi dengan optimal. Demikian yang dapat saya sampaikan. Terima kasih…^^”

Kesan belajar hari ini tidak begitu spektakuler, namun ada hal penting di balik semua ini. Mengapa demikian? Dosen pengampu hanya memberikan instruksi sedikit namun kita (mahasiswa) langsung 1 kelas memberikan pendapatnya masing – masing dimana biasanya ketika kuliah berlangsung di kelas semua pada malu-malu dalam menjawab. Ini juga merupakanssalah satu cara untuk memicu mahasiswa untuk mengekspresikan pemikirannya. Dan dosen pengampu hanya menjadi fasilitator dalam prose belajar pada pagi hari ini. Saya mulai mengerti pola pemikiran seorang guru yang kreatif karena menjadi seorang guru tidak hanya ilmu saja yang diperlukan, namun seni dalam mengajar dan mendidik peserta didiknya itulah yang sangat penting…^^

Minggu, 18 Maret 2012

Paedagogi Teoritis dan Prinsip - prinsip Paedagogi

               Pada Pertemuan pertama dan kedua, sudah dibahas tentang Seni dan Ilmu belajar dalam Paedagogi dan kaitan paedagogi dengan paradigm belajar. Sebenarnya paedagogi tidak hanya pada ilmu dan seni mengajar, melainkan ada hubungannya dengan pembentukan generasi baru , maksudnya, pengaruh pendidikan sebagai system yang beruara pada pengembangan individu / peserta individu. Paedaggi sendiri bermakna ilmu pengajaran / pendidian. Sedangkan paedagogis bermakna sadar terhadap arah tujuan dan ciri dasar dari proses paedagogi.

               Isitlah paedagogis sendiri mengandung arti proses interaksi terus –menerus dan saling berasimilasi antara pengetahuan ilmiah dan pengembangan siswa. Asimilasi pengetahuan oleh siswa berkaitan dengan antusiasme siswa untk mengetahui diverifikasi dalam proses kerja yang intensif dan aktif. Gambaran tentang paedagogis itu mengatakan bahwa pendidikan tidak hanya bergantung pada tindakan guru, tetapi juga pada orang-orang dan faktor lain yang ikut berkontribusi secara aktif, berarti pendidikan itu sendiri mengintegralkan dalam segala aspek, berkaitan dengan multifactor dan multitindakan yang saling terkait secara keseluruhan.

Nah, untuk lebih bisa memahami apa itu proses paedagogi, sebaiknya mari kita lihat prinsip-prinsip yang ada pada proses paedagogis itu sendiri sebenarnya apa saja yang dipertimbangkan. Yuk, kita sama –sama melihat dan memahami secara seksama.

               Prinsip-prinsip proses paedagogis adalah tesis dasar psikopaedagogis, pada arah paedagogis yang menjadi standar dan prosedur tindakan untuk menentukan dasar paedagogis yang paling penting dalam proses pendidikan kepribadian.

Beberapa prinsip-prinsip paedagogis menurut Addine (2001) adalah

  1. Kesatuan karakter ilmiah dan ideologis dari proses paedagogis. Maksudnya, setiap proses paedagogis harus terstruktur berdasarkan temuan yang paling maju di bidang sains kontemporer dan dalam korespodensi total dengan ideologi kita.
  2. Kaitan antara kehidupan dan pekerjaan sebagai kegiatan yang mendidik manusia. Maksudnya, setiap konten yang pembelajar ambil di sekolah haruslah berguna dalam kehidupan sehari-hari, kini dan kelak.
  3. Kombinasi karakter kolektif dan individual pendidikan, serta penghormatan terhadap kepribadian siswa. Pengertiannya, ,jika proses paedagogis terjadi dalam konteks sekelompok orang, maka setiap anggota seharusnya memiliki kekhususan unik yang membedakan dia dari yang lain dan memiliki hak untuk dipertimbangkan dan dihormati juga.
  4. Kesatuan pengajaran, pendidikan dan perkembangan proses. Maksudnya, ketika seseorang menempuh pendidikan dia harus menjalani proses pembelajaran yang baik yang akan membuat dia mencapai keterdidikan, dalam makna terwujudnya pencapaian jaminan pengembangan pribadi.
  5. Domain kognitif dan afektif tidak bisa berada dalam suasana yang kering. Maksudnya, proses paedagogis harus terstruktur berdasarkan kesatuan dan hubungan antara kondisi manusia (kemungkinan mengetahui dunia sekitarnya dan dunia sendiri serta pada saat yang sama perasaan dan tindakan kemungkinan menjadi terpengaruh oleh dunia itu.
  6. Masing-masing subsistem aktivitas, komunikasi, dan kepribadian saling terkait satu sama lain. Maksudnya, aspek kepribadian dibentuk dan dikembangkan atas aktivitas dan melalui proses komunikasi.


Daftar Pustaka:
Danim, Sudarwan. (2010). Pedagogi, Andragogi dan Heutagogi. Bandung: Alfabeta

Minggu, 11 Maret 2012

PARADIGMA BELAJAR

            Setiap strategi guru didasari pada paradigma yang berbeda mengenai cara siswa belajar. asumsi yang mendasarinya adalah bahwa pembelajaran yang lebih akan terjadi ketika guru mulai mendapatkan pemahaman yang prima tentang bagaimana kegiatan belajar terjadi. guru akan menjadi lebih efektif bial dia secara sadar memilih untuk menggunakan strategi mengajar, memperluas pendaharaan strategi, dan ahli dalam menggunakan strategi tersebut.

Ada lima Strategi mengajar yang penting untuk diterapkan, antara lain:
1. Strategi 1: Pelatihan dan pelatihan lanjut, yaitu mengembangkan keterampilan dasar dan lanjutan dengan tujuan yang jelas, melaksanakan pembelajaran dengan langkah-langkah tertentu, dan memperkuat setiap kemajuan. Strategi ini didasari oleh hasil temuan psikologi perilaku.
2. Strategi 2: Ceramah dan menjelaskan, yaitu menyajikan informasi dengan cara yang dapat dipahami, mudah diproses, dan diingat. Strategi ini didasari oleh hasil temuan psikologi kognitif.
3. Strategi 3: Mencari dan menemukan, yaitu pembelajaran keterampilan berpikir, pemecahan masalah, dan kreativitas melalui penyelidikan dan penemuan. Strategi ini didasari oleh hasil temuan tentang proses berpikir dan penelitian psikologis pada penalaran dan kreativitas.
4. Strategi 4: Kelompok dan tim, yaitu berbagi informasi, bekerja secara kooperatif pada pembelajaran proyek, serta mengeksplorasi sikap, pendapat, dan keyakinan melalui proses kelompok. Strategi ini didasari oleh temuan tentang komunikasi kelompok dan tim.
5. Strategi 5: Pengalaman dan refleksi, yaitu mengaktifkan siswa untuk merefleksikan pembelajaran yang terjadi di lingkungan kerja, magang, studi wisata, atau kegiatan di luar ruangan. Strategi ini didasari oleh hasil temuan teori belajar holistik dan teori-teori konseling yang memfasilitasi wawasan dan pemahaman diri.

DAFTAR PUSTAKA :
Danim, Sudarwan. (2010). Paedagogi, Andragogi, dan Heutagogi. Bandung: Alfabeta

SENI Dan ILMU MENGAJAR

        Pada mata kuliah paedagogi ini, bertemu kembali dengan Bu Dina, dosen yang memiliki banyak ide untuk membuat suasana belajar berbeda dengan mata kuliah yang lain. Pertemuan kedua hari ini, awalnya kami disuruh untuk menangkap bola kertas yang dilemparkan lalu dengan spontan menyebutkan alasan memilih mata kuliah ini. Pada awalnya, saya sendiri penasaran apa maksud dari ini semua. Setelah selesai bermain, Bu Dina menyuruh memberikan pendapat tentang permainan kita.

      Menurut saya sendiri, Bu Dina ingin melihat spontanitas yang kita miliki seperti yang dimiliki oleh anak-anak. Lalu karena bola yang ditangkap oleh kita harus diberi jawaban yang sama menandakan kita harus bertanggung jawab (berkomitmen) serta konsistensi terhadap hal yang dihadapkan pada kita.

         Setelah itu kami disuruh membuka portal dan melihat kontrak perkuliahan, lalu kita disuruh membuka web www.editgrid.com yang merupakan web baru bagi saya dalam pembelajaran. Saya sendiri melihat kami semua, selain konsep paedagoginya dapat, yaitu mengikuti instruksi yang diberikan dosen, ada unsur seni dalam hal mengajar yang juga menjadi focus dosen pada pertemuan ini. Namun tak lama kemudian ternyata ada kesalahan dosen tentang jaringan belajar ini, maka dari itu dilanjutkan untuk membuka usu e-learning lalu masuk ke fakultas psikologi => departemen pendidikan => paedagogi 2012. Setelah masuk kami disuruh untk encourse mata kuliah ini agar bisa chatting.

        Fasilitas yang dipersiapkan kepada kami selain google talk yang sudah kami gunakan semester lalu. Sekarang kami menggunakan jasa usu e-learning untuk berkomunikasi. Bila dosen sendiri tidak berjiwa seni, perkuliahan yang akan dijalani selama 1 semester ini akan terasa biasa-biasa saja. Dengan menggunakan teknologi yang ada, gmail, g-talk, editgrid, blog, yang sudah digunakan oleh banyak orang dalam berkomunikasi dan belajar. Pembelajaran dengan menggunakan jejaring yang ada merupakan salah satu pengaplikasian psikologi pendidikan. Paedagogi yang saya dapatkan dalam pertemuan ke-2 ini, saya seperti kembali ke masa SD yang masih dibimbing untuk mengerjakan sesuatu.

          Metode pembelajaran yang diterapkan dalam mata kuliah paedagogi ini merupakan sesuatu yang baru. Dan tidak ada salahnya mencoba menempuh mata kuliah ini sekaligus mendapatkan pengalaman dalam hal belajar. Konsep Micro teaching yang menjadi muridnya adalah mahasiswa yang berperan seperti anak-anak seperti yang diinginkan oleh teacher. Berhubung ini mata kuliah yang sebenarnya belajar tentang anak-anak, tetapi dibuat konsep yang demikian. Saya penasaran apa yang akan kita lalui dan alami selama perkuliahan pada semester kali ini. Sekian apa yang bisa saya sampaikan. Salam psikologi.

Sabtu, 14 Mei 2011

Motivasi Intrinsik sebagai Kunci Awal Meraih Prestasi

Topik : Peran motivasi dalam proses mewujudkan prestasi
Judul : Motivasi Intrinsik sebagai Kunci Awal Meraih Prestasi

Tugas Mini Proyek Kelompok 7
Lia Hairani (10-001)
Lisa Chairani (10-015)
Weillon Chaidir (10-123)

PERENCANAAN

Pendahuluan
Fenomena-fenomena yang terjadi dalam dunia pendidikan saat ini banyak menyita perhatian orang-orang dalam psikologi pendidikan, banyak diantara murid-murid yang menjadikan proses belajar sebagai suatu bentuk tekanan untuk mendapatkan semata-mata nilai yang baik atau dengan tujuan naik kelas saja, bukan memperoleh ilmu pengetahuan sehingga mengakibatkan motivasi intrinsic yang mereka punya mengalami penurunan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurunnya motivasi intrinsik yang dimiliki oleh setiap murid disebabkan oleh kurangnya kesesuaian antara lingkungan sekolah dan kebutuhan remaja saat ini. Hal ini mengakibatkan penurunan terhadap evaluasi diri dan sikap negatif terhadap sekolah itu sendiri. Bila hal ini terus berlanjut maka akan berdampak buruk pada kemampuan untuk berkembang, bertahan dan bersaing di dalam masyarakat.
Topik ini dipilih untuk melihat seberapa besar pengaruh motivasi dalam meningkatkan prestasi murid, baik motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik. Penelitian yang diambil adalah sampel murid-murid SMA dengan alasan bahwa tingkatan SMA lebih mampu menunjukkan persepsi-persepsi mereka masing-masing secara kompleks dalam hal motivasi yang mendorong pencapaian prestasi mereka.

Landasan teori
Penelitian yang kami lakukan berhubungan dengan teori mengenai motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik,karena motivasi intrinsic adalah motivasi utama yang dapat mempengaruhi proses pencapaian prestasi murid,dan hal tersebut juga tidak terlepas dari dukungan motivasi ekstrinsik.
Motivasi intrinsik tersebut merupakan motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri).(Santrock.,J.W(2008)). Contoh: murid mungkin belajar menghadapi ujian karena dia senang pada mata pelajaran yang akan diujikan tersebut. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain (cara untuk mencapai tujuan). Motivasi ekstrinsik sering dipengaruhi oleh insentif eksternal seperti imbalan dan hukuman. penghargaan (reward) eksternal dapat memperkuat dan ada pula yang dapat melemahkan motivasi intrinsik.(Santrock.,J.W(2008) Contoh: murid mungkin belajar keras dalam menghadapi ujian untuk memperoleh nilai yang baik.Disamping itu, Perspektif behavioral menekankan arti penting motivasi ekstrinsik dalam mencapai prestasi sedangkan pendekatan kognitif dan humanis lebih menekankan pada pentingnya motivasi internal dalam berprestasi.
Murid termotivasi untuk belajar saat mereka diberi pilihan, senang menghadapi tantangan yang sesuai dengan kemampuan mereka, dan mendapat imbalan yang mengandung nilai informasional serta memberi pujian bisa memperkuat motivasi intrinsik murid.Hal demikian dapat terjadi didukung oleh dua jenis motivasi intrinsik tersebut. Motivasi intrinsik dibedakan antara dua jenis yaitu :
• Determinasi diri dan pilihan personal (Deci & Ryan,1994)
Dalam hal ini, murid ingin percaya bahwa mereka melakukan sesuatu karena kemauan sendiri bukan karena kesuksesan atau imbalan eksternal. Murid diberi beberapa pilihan dalam aktivitas yang mereka inginkan. Mereka juga didorong untuk mengambil tanggung jawab personal atas tindakan mereka, termasuk mencapai tujuan yang telah mereka tentukan sendiri.
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan dalam memberikan murid kesempatan untuk memilih dan determinasi diri (Brophy,1998; Deci & Ryan, 1994):
1. Luangkan waktu => luangkan waktu untuk berbicara dengan murid dan jelaskan kepada mereka mengapa aktivitas pembelajaran yang harus mereka lakukan adalah penting.
2. Bersikaplah penuh perhatian (atentif) => perhatikan perasaan murid saat mereka disuruh untuk melakukan sesuatu yang tidak ingin mereka lakukan.
3. Kelola kelas secara efektif => usahakan agar murid bisa membuat pilihan personal. Biarkan murid memilih topik sendiri, tugas menulis, dan proyek sendiri. Beri mereka pilihan cara melaporkan tugas mereka, baik laporan individual maupun laporan kelompok.
4. Ciptaan pusat pembelajaran => murid dapat belajar sendiri atau secara kolaboratif dengan murid lain untuk proyek yang berbeda-beda di pusat pembelajaran itu. Proyek atau tugas itu misalnya seni bahasa, studi sosial, atau komputer. Murid dapat memilih sendiri aktiviitas yang ingin mereka lakukan.
5. Bentuklah kelompok minat => bagi murid ke dalam kelompok-kelompok minat dan biarkan mereka mengerjakan tugas-tugas yang relevan dengan minat mereka.

• Pengalaman Optimal
Mihaly Csikszentmihalyi(1990,1993,2000) mengembangkan ide yang relevan untuk memahami motivasi intrinsik. Beliau menggunakan istilah flow untuk mendeskripsikan pengalaman optimal dalam hidup. Beliau menemukan bahwa pengalaman optimal itu terjadi ketika orang merasa mampu menguasai dan berkonsentrasi penuh saat melakukan suatu aktivitas. Beliau mengatakan bahwa pengalaman optimal ini terjadi ketika individu terlibat dalam tantangan yang mereka anggap tidak terlalu sulit tetapi juga tidak terlalu mudah. Flow paling mungkin terjadi di area di mana murid ditantang dan menganggap diri mereka punya pilihan yang tinggi. Ketika keahlian murid tinggi tetapi aktivitas yang dihadapinya tidak menantang, haslinya adalah kejemuan. Ketika level tantangan dan keahlian rendah, murid merasa apati dan ketika murid menghadapi tugas sulit yang dirasa tidak bisa mereka tangani, maka mereka merasa cemas.
Ada beberapa cara dalam membantu murid mencapai pengalaman optimal (flow), yaitu:
1. Kompeten dan termotivasi => jadilah ahli dalam mata pelajaran atau pokok persoalan, tunjukkan semangat saat anda mengajar, dan hadirkan diri anda sebagai model yang punya motivasi intrinsik.
2. Ciptakan kesesuaian optimal => strategi yang baik adalah mengembangkan dan mempertahankan kesesuaian optimal antara apa yang anda tugaskan pada murid sesuai dengan tingkat keahlian mereka. Artinya, mendorong murid untuk menghadapi tantangan namun dengan tujuan yang masuk akal (reasonable).
3. Naikkan rasa percaya diri => beri murid dukungan instruksional dan emosional yang mendorong mereka untuk menjalani pembelajaran dengan penuh percaya diri dan sedikit kecemasan.

Selain jeis-jenis motivasi intrinsic yang mempengaruhi pencapaian prestasi dari siswa tersebut, ada penghargaan eksternal yang dapat memperkuat atau melemahkan motivasi intrinsic.yaitu sebagai berikut:
- Imbalan ekstrinsik dengan motivasi intrinsik (Schunk, 2000)
Intinya bahwa penting untuk mengkaji adakah kandungan informasi kompetensi di dalam hadiah. Ketika hadiah dikaitkan dengan kompetensi, maka hadiah bisa menaikan motivasi dan minat. Jika tidak, hadiah tidak akan menaikkan motivasi atau mungkin justru melemahkan motivasi ketika hadiah tidak diberikan lagi. Ketika imbalan yang ditawarkan memberikan informasi tentang penguasaan keahlian atau ability, murid akan merasa kompeten dan bersemangat. Imbalan yang digunakan sebagai insentif menimbulkan persepsi bahwa perilaku murid disebabkan oleh imbalan eksternal, bukan oleh motivasi dalam diri murid untuk menjadi pandai.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pentingnya motivasi dalam meningkatkan prestasi siswa,baik berupa motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Untuk memperkuat penjelasan kami dalam hal pentingnya motivasi tersebut kami mengambil sampel murid SMA 2 Sutomo untuk mengadakan survey seputar motivasi tersebut. Kami ingin membuktikan apakah murid SMA swasta Sutomo 2 kelas XI IPA 1 lebih memiliki motivasi intrinsik atau motivasi ekstrinsik dalam mewujudkan prestasi?

Alat atau Bahan
Untuk membuktikan apa yang menjadi tujuan dalam melakukan survey ini, ada beberapa alat ataupun bahan yang digunakan antara lain:
- Kuesioner
Sebagai bahan utama dalam pelaksanaan survey
- Alat tulis
Dipakai sebagai alat untuk menjawab survey
- Kamera
Dipakai pada saat pelaksanaan untuk dokumentasi dan sebagai bukti pelaksanaan proyek.

Analisa Data
Data yang diambil adalah 30 murid SMA Sutomo 2 kelas XI yang dianggap cocok untuk dianalisa motivasi mereka dalam proses mewuudkan prestasi.
Dalam pembuatan kuesioner sebagai bahan utama untuk membuktikan apakah prestasi murid SMA Sutomo 2 lebih ditentukan oleh motivasi intrinsik atau motivasi ekstrinsik, maka perencanaan pembuatannya disusun dalam bentuk blueprint. Kuesioner yang berisi 20 soal yang terbagi menjadi 10 pernyataan motivasi intrinsik dan 10 pernyataan ekstrinsik. Data yang terkumpul akan dicross-check jawaban – jawaban sampel dengan panduan blueprint yang telah dirancang sehingga dapat dengan mudah diambil 1 kesimpulan untuk menjawab permasalahan di atas pada survey ini.

Jadwal Pelaksanaan
- Perencanaan topic dan judul => Rabu,13 April pukul 11.00 WIB
- Pembuatan latar belakang dan landasan teori => Jum’at, 22 April pukul 14.00 WIB
- Pembuatan kuisioner => Senin, 25 April pukul 14.00 WIB.
- Minta Izin ke sekolah Sutomo 2 Medan => Kamis, 28 April pukul 13.30 WIB.
- Pembuatan surat izin fakultas untuk melakukan survey ke sekolah =>
Sabtu, 30 April pukul 14.00 WIB.
- Menyerahkan surat izin fakultas kepada pihak sekolah => Selasa, 03 Mei pukul 12.00 WIB
* Pelaksanaan kegiatan.
- Tiba di SMA 2 Sutomo. => Jum’at, 06 Mei pukul 10.00 WIB
- Memasuki gedung sekolah => Jum’at, 06 Mei pukul 10.30 WIB
- Melapor kepada guru BP => Jum’at, 06 Mei pukul 10.35 WIB
- Berbincang-bincang seputar sekolah => Jum’at, 06 Mei pukul 10.40-10.55 WIB
- Menuju kelas => Jum’at, 06 Mei pukul 11.00 WIB
- Perkenalan dan maksud kunjungan sambil mengambil dokumentasi => Jum’at, 06 Mei pukul 11.05 WIB
- Pembagian kuisioner dan dokumentasi => Jum’at, 06 Mei pukul 11.10 WIB
- Pengumpulan kuisioner dan pemberian reward serta dokumentasi => Jum’at, 06 Mei pukul 11.25 WIB
- Penutupan dan ucapan terima kasih => Jum’at, 06 Mei pukul 11.35 WIB
- Permohonan izin pulang kepada guru BP => Jum’at, 06 Mei pukul 11.45 WIB
- Pulang dari SMA 2 Sutomo => Jum’at, 06 Mei pukul 12.00 WIB
- Pengevaluasian data dan Pengambilan kesimpulan survey => Sabtu, 7 Mei 2011 pukul 13.00 WIB
- Penyelesaian Poster => Minggu, 16 Mei 2011

Subjek atau Objek
Yang terpilih menjadi subjek penelitian adalah murid SMA Sutomo 2 Medan kelas XI IPA 1 yang berjumlah 30 orang. Objek yang akan diteliti adalah motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik dari 30 murid SMA Sutomo 2 Medan kelas XI IPA 1.

Kalkulasi Biaya
Perkiraan biaya yang dikeluarkan kami rincikan sebagai berikut :
- Angket yang berjumlah 30 buah fotokopian : Rp 22.000
- Snack yang disediakan juga berjumlah 30 buah : Rp 15.000
- Bahan bakar yang digunakan dalam melakukan perjalanan : Rp 20.000

PELAKSANAAN

Uraian mengenai pelaksanaan kegiatan
Kegiatan mini proyek yang diawali dengan perencanaan kegiatan dilakukan melalui forum diskusi antara sesama anggota kelompok, setelah memilih topic yang sesuai dengan kesepakatan, mulailah diatur strategi apa saja yang akan digunakan dalam melakukan penelitian ini, hingga akhirnya diputuskan untuk menggunakan strategi pemberian kuesionerr terhadap 30 murid SMA sekolah SMA Sutomo 2 Medan kelas XI IPA 1 sebagai sample penelitian.
Menggunakan surat izin yang diberikan oleh fakultas, pihak yang berwajib di sekolah tersebut akhirnya mengizinkan untuk dilakukan penelitian ini, setelah melakukan sedikit negosiasi kepada guru BP (Bimbingan Penyuluhan) Ibu Flora selaku orang yang bertanggung jawab terhadap sekolah, jadwal penelitian pun ditetapkan pada hari Jum’at tanggal 6 mei 2011.
Pada tanggal 6 Mei 2011 bertepatan pada jam 11 setelah para murid-murid tersebut istirahat kami dipersilahkan memasuki ruangan kelas untuk melakukan penelitian selama 15 menit. Selama 15 menit yang telah disepakati awalnya dilakukan perkenalan diri dan tujuan dalam melakukan kunjungan ke sekolah tersebut tepatnya ke kelas XI IPA 1, setelah itu dibagikanlah angket kepada masing-masing siswa yang berjumlah 30 orang. Selang para siswa mengisi angket tersebut, diambillah dokumentasi untuk menambah kebutuhan dari penelitian ini. Selama kurang lebih 10 menit mengisi angket tersebut para siswa kemudian mengantarkannya ke depan dan memberikannya kepada peneliti sambil memberikan reward kepada mereka sebagai ucapan terima kasih telah membantu proses penelitian ini. Setelah mengucapkan terima kasih dan permohonan maaf karena telah menyita waktu mereka dan meninggalkan kelas tersebut.Diakhir kunjungan ke sekolah SMA Sutomo 2 tidak lupa tetap menyempatkan untuk mengambil dokumentasi. Dan setelah meminta izin kepada para guru yang berwajib dan mengucapkan terima kasih, berkumpul sebentar lalu meninggalkan sekolah SMA Sutomo 2. Keesokkan harinya, data yang terkumpul dicross-check dengan blueprint yang telah dibuat sebelumnya. Dan akhirnya tanggal 9 Mei 2011, hasilnya telah diperoleh dan pertanyaan penelitian telah berhasil terjawab dengan diperolehnya kesimpulan penelitian.

PELAPORAN DAN EVALUASI

Laporan
Dari data yang diperoleh setelah melakukan survey terhadap 30 murid SMA Sutomo 2, dapat dirincikan sebagai berikut:
Kuesioner yang berisi 20 pernyataan yang terdiri dari 10 pernyataan yang menunjukkan motivasi intrinsik dan 10 pernyataan yang menunjukkan motivasi ekstrinsik.
Hasil data menunjukkan bahwa murid SMA Sutomo 2 kelas XI IPA 1:
1. Memiliki orang tua yang dapat memberikan dorongan motivasi untuk keberhasilan mereka dalam pembelajaran
2. Merasa tertantang dalam pembuatan tugas yang sulit
3. Memiliki niat untuk menjadi yang terbaik di dalam kelas
4. Berprestasi merupakan motivasi mereka untuk menjadi orang yang sukses
5. Tidak merasa bahwa adanya ujian adalah beban
6. Selalu bersemangat dalam hal belajar
7. Belajar sangat giat pada mata pelajaran kesukaan anda
8. Sudah merencanakan cita-cita jauh sebelum lulus dari sekolah
9. Memiliki alternative lain bila seandainya cita-cita mereka tidak tercapai
10. Tidak nyaman belajar karena kurang percaya diri.
11. Terpacu semangat mereka bila melihat ada teman yang berprestasi
12. Sebagian menganggap bahwa mengumpul tugas tepat waktu adalah hal yang tersulit
13. Menganggap belajar hanya sebagai kewajiban
14. Mendapat dukungan pihak lain yang berpengaruh pada minat belajar mereka.
15. Sering menggunakan system SKS dalam setiap ujian
16. Bersemangat bila guru yang bersangkutan memberikan nilai tambahan untuk mata pelajaran yang bersangkutan.
17. Termotivasi juga jika diberi hadiah (reward) dari orang lain
18. Kurang bersemangat jika hasil prestasi hanya dipuji orang.
19. Hanya akan belajar jika yang menyuruh hanya orang-orang terdekat.
20. Kurang mau bersaing dengan teman dalam lingkungan sekolah.

Dari pernyataan yang telah dijawab oleh ke – 30 siswa SMA kelas XI IPA 1, maka diperoleh hasil yang telah dicocokan dengan blue-print yang telah kami cross-check, yaitu
Sebanyak 26 siswa yang lebih memiliki motivasi intrinsik; 3 siswa yang netral dalam arti motivasi intrinsik dan ekstrinsik sama besar; dan 1 siswa yang lebih memiliki motivasi ekstrinsik.
Selain itu juga, ada informasi yang akurat bahwa murid SMA kelas IPA memang pada dasarnya lebih memiliki motivasi intrinsik daripada motivasi ekstrinsik yang dilihat dari prestasi murid-murid di dalamnya, seperti mengikuti olimpiade (Science, Matematic, Physic, Computer) serta olahraga dan seni.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa murid SMA Sutomo 2 kelas XI IPA 1 memiliki motivasi intrinsik yang lebih besar daripada motivasi ekstrinsik dalam proses mewujudkan prestasi di dalam kelas.

Evaluasi
Dari mulai perencanaan yang telah disusun dan direncanakan dari awal memang ada sedikit pemakaian kata-kata atau kalimat yang susah dimengerti namun setelah berdiskusi lebih lanjut akhirnya latar belakang dan landasan teori yang dirancang telah jelas dideskripsikan. Alat atau bahan yang digunakan tidak banyak, biaya yang dikeluarkan pun tidak banyak sesuai perkiraan yang kurang dari Rp 70.000,00. Jadwal yang direncanakan tepat waktu dan sesuai jadwal sehingga pada saat pelaksanaan survey ini tidak lagi menyia-nyiakan waktu.
Pelaksanaan yang dilakukan pada tanggal 6 Mei 2011 terlaksana sesuai dengan rencana, pada saat pelaksanaan diambillah foto pelaksanaan untuk didokumentasikan dan beberapa foto tersebut akan dimuat dalam design poster. Sambutan yang cukup meriah dari siswa-siswa yang disurvey berkat bantuan Ibu BP Flora yang sedikit menceritakan sejarah salah satu peneliti yang pernah bersekolah di Sutomo 2 Medan. Terima kasih sebesar-besarnya kepada pihak sekolah yang telah mengizinkan dan kesediaan murid yang telah mensukseskan survey kali ini.
Dalam pembuatan pelaporan dan evaluasi juga tidak menggunakan waktu yang lama dalam menyimpulkan data yang telah diperoleh karena blue-print yang telah dirancang sedemikian rupa pada saat perencanaan. Pemberian informasi yang akurat dari pihak sekolah Sutomo 2 dan wali kelas yang cukup memperkuat kesimpulandari penelitian. Dari kesimpulan yang diperoleh ini maka dapat ditarik lagi 1 kesimpulan mengenai motivasi yaitu bahwa peran motivasi intrinsik memang menjadi kunci awal untuk meraih prestasi.

Design Poster


Testimoni Kelompok 7

Testimoni Lia Hairani (10-001)
Menurut saya tugas mini proyek yang diberikan oleh dosen pengampu kami yaitu buk Dina sangat membantu dalam proses pemahaman mengenai pentingnya pendidikan dalam konteks umum. Tugas proyek yang kami laksanakan mendapatkan hasil yang sangat memuaskan dan saya pun mendapatkan pelajaran dan hikmah yang sangat bervariasi. Diantara pelajaran yang dapat saya terima yaitu bagaimana memahami karateristik dari siswa SMA terhadap motivasi mereka dalam hal meningkatkan motivasi berprestasi sebagai penelitian kami, sedangkan hikmah yang saya peroleh dari tugas mini proyek ini selain membantu merealisasikan teori-teori yang sudah dibahas juga membatu saya dalam memahami karateristik para anggota kelompok yang sebelumnya belum saya ketahui dalam konteks menyelesaikan tugas dan dalam hal kekompakan, dengan adanya tugas seperti ini kami dapat memupuk rasa saling membutuhkan antar para anggota kelompok.
Membantu saya dalam hal bersosialisasi dengan orang-orang yang sebelumnya belum berhubungan dan bahkan belum dikenal sama sekali. Tugas ini sangat cocok untuk selalu dikembangkan agar para mahasiswa dapat lebih awal belajar mendapatkan informasi melalu masyarakat luas juga tidak berdasarkan dari penjelasan dosen pengampu saja.

Testimoni Lisa Chairani (10-015)
Tugas mini proyek sangat bermanfaat, karena pengerjaannya yang sedikit rumit, tapi harus tetap berusaha untuk menyelesaikan tugas ini, tugas ini adalah tanggung jawab besar untuk kelompok kami. Tugas mini proyek psikologi pendidikan ini membuat kami belajar bagaimana caranya meneliti apa yang tidak diketahui jadi tahu.Lebih kompak di kelompok dalam mengerjakan tiap tahap demi tahap tugas ini. Menambah wawasan dan juga pengalaman, kerena dari tugas ini kami mengetahui cara meminta surat ijin dari fakultas, cara memberikan surat ijin dari fakultas ke sekolah, dan cara mengerjakan tugas yang di beri arahan langsung dari dosen pengampu.

Testimoni Weillon Chaidir (10-123)
Untuk tugas mini proyek pada semester 2 ini cukup menantang, sebab ini pertama kalinya saya melakukan survey atau penelitian seperti ini. Ini cukup menjadi bekal bagiku untuk menghadapi semester atas yang akan lebih rumit lagi daripada mini proyek. Dari mulai perencanaan sampai pada pelaksanaan serta evaluasi semua butuh proses dan teori yang menguatkan apa yang akan kita teliti. Membuktikan fenomena yang terjadi dengan terjun ke lapangan dengan pegangan teori yang dikemukakan tokoh.
Topik yang dipilih benar-benar menjadi perhatian ketika bersentuhan dengan dunia pendidikan, bekerja dalam kelompok memang lebih mempermudah tugas kita. Bila kita melihat sudut pandang tokoh yang mengemukakan teori dari hasil penelitian sendiri memang telah dibuktikan di masyarakat sehingga ada sebuah teori. Saya yang berusaha membuktikan teori tokoh dengan fenomena yang ada di lapangan sedikit mengalami kendala karena masih tahap pembelajaran. Proses kognitif yang terjadi padaku pun bermacam-macam, baik dari segi topik, judul hingga pada populasi yang akhirnya diambil sampel penelitian perlu proses berpikir dan motivasi untuk ingin tahu serta pada proses pengolahan dalam arti ini perencanaan dan pelaksanaan.
Saya merasa ada sensasi dan kepuasan tersendiri ketika menyelesaikan mini proyek ini, karena akhirnya bisa melakukan tugas penelitina seperti ini walaupun masih butuh bimbingan dosen pengampu, namun telah banyak yang bisa dipelajari. Karya ilmiah sederhana dengan praktek langsung di lapangan. Lumayan menraik dan menantang. Terima kasih kepada dosen pengampu yang telah memberikan tugas ini. Saya belajar banyak tentang bagaimana melakukan suatu penelitian yang masih sederhana sebab saya yakin dengan adanya tugas ini akan sangat bermanfaat selama 3 tahun ke depan di fakultas psikologi...^^

DOKUMENTASI
Pembagian kuesioner kepada murid

Pembagian kuesioner kepada murid dan mulai mengisi kuesioner


Mengamati murid mengisi kuesioner

Pengumpulan Kuesioner

Pembagian Snack sebagai tanda terima kasih

Foto Bersama di luar kelas

Foto bersama Wali Kelas

Daftar Pusaka :
SANTROCK, JOHN.W. Psikologi Pendidikan, Edisi Kedua, Jakarta : Kencana ,2010

Minggu, 08 Mei 2011

Potensi manfaat apakah yang terkandung dalam pengisi waktu luang yang konstruktif bagi pelaku?

1. Kesejahteraan Jasmani
Kesejahteraan Jasmani maupun kecekatan jasmani banyak menjadikan alasan mengapa orang berbondong – bondong mengikuti kegiatan snam, olahraga lain, maupun menari.
2. Kesegaran mental dan emosional
Kegiatan yang konstruktif dapat menyumbang keseimbangan mental maupun emosional.
3. Menjajagi Indentitas, Kesanggupan, maupun mencicipi kegiatan
Kegiatan yang konstruktif dapat membuat seseorang kenal dengan dirinya sendiri, kenal seberapa besar ketidakmampuan maupun kemampuannya, sehingga dapat ‘mendefinisikan’ dirinya sendiri
4. Mendukung konsep-diri atau harga-diri
Kegiatan pengisi waktu luang juga dapat untuk melampiaskan keinginan menunjukkan ‘siapa dia’ dan memberi perasaan ikut menyumbang, ikut berpartisipasi, dan ikut merasakan menjadi manusia yang diperhitungkan
5. Sarana belajar dan perkembangan kemampuan( perkembangan intelektual, afektif, maupun ketrampilan)
6. Memberikan kompensasi dan mendapatkan keseimbangan.
7. Pengisian waktu luang sebagai tujuan akhir (melakukan penghayatan)

Daftar Pusaka
Sukadji,S. (2000). Psikologi pendidikan dan psikologi sekolah.Depok: Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) Fakultas Psikologi Universitas